Rabu, 28 Desember 2016

GERAKAN MENYUSUP KAUM PENDUSTA

Oleh : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin hafizhahulloh

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.
Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”
Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)
Sejak revolusi kaum Syiah berlangsung di negeri Iran, penyebaran paham agama Syiah mendapat suntikan kekuatan. Poster-poster Khomeini dengan berbagai ukuran merebak di kalangan aktivis pergerakan, tak terkecuali di Indonesia. Demam revolusi mewabah para aktivis pergerakan. Revolusi kaum Syiah di Iran seakan-akan menginspirasi semangat para pemuda Islam di Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan yang kala itu masih di tampuk pemerintahan Orde Baru. Kantor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjadi markas penyebaran paham Syiah kala itu. Banyak umat Islam yang berdecak kagum terhadap revolusi ala kaum Syiah Iran tersebut.
Namun, seiring perjalanan waktu, sebagian kaum muslimin di Indonesia mulai tersadar. Revolusi yang mengusung nama Islam yang digembar-gemborkan kaum Syiah ternyata dusta. Bukan Islam yang mereka usung, melainkan akidah Syiah dengan segala kesesatannya yang mereka taburkan ke dalam benak para aktivis pergerakan Islam.

Upaya Menyusupkan Paham
Hangatnya revolusi kaum Syiah di Iran benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menularkan virus sesat kaum Syiah. Beberapa pemuda, di antaranya dari Solo, Pekalongan, dan kota lainnya di Indonesia diberangkatkan ke Iran. Sejak saat itu, gelombang pengiriman anak muda yang dibius ajaran sesat Syiah terus berlangsung. Dari merekalah kemudian bercokol satu demi satu markas penyebaran Syiah di Indonesia. Lampung, Bandung, Pekalongan, Jepara, Yogyakarta, Bangil, dan beberapa kota lainnya mulai unjuk taring. Mereka suarakan paham Syiah. Walau di antara mereka, kala itu, ada yang masih menyembunyikan kesyiahannya alias bertaqiyah. Ada juga yang lantaran semangat langsung mendendangkan paham Syiah ke tengah-tengah masyarakat.
Generasi awal ini terolong militan. Untuk kalangan intelektual, terkhusus di kampus, sosok Jalaluddin Rakhmat tak bisa diabaikan peranannya. Melalui sekolah menengah yang dirintisnya, Jalaluddin Rakhmat giat melakukan kaderisasi kesyiahan. Berbagai beasiswa ditawarkan kepada tunas muda tersebut untuk melanjutkan studi ke Qum atau perguruan tinggi di kota lainnya di Iran.
Seiring dengan itu, di barisan media masa, Surat Kabar Republika pun kerap menjadi corong menyusupkan paham Syiah. Tak jarang, Republika menuai protes lantaran dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengemudikan kebijakannya ke arah pemahaman Syiah. Melalui media buku, surat kabar, dan lainnya kerap diusung tema-tema mendekatkan antara Sunni-Syiah. Mereka berupaya menghembuskan titik kesamaan antara Sunni-Syiah. Di antaranya, disebutkan bahwa “baik Sunni maupun Syiah sama-sama menyembah Allah,” “Allah dan Rasul Syiah sama dengan Sunni,” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menjadikan umat tertipu.
Syubhat (kesamaran) inilah yang bisa menggelincirkan akidah seorang muslim sehingga berubah menjadi seorang Syi’i (penganut agama Syiah). Padahal, apa yang ada di dalam ajaran Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Syiah. Perbedaan tersebut justru terkait masalah yang bersifat prinsip. Misal, dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk tidak mencela seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai ada seorang dari kalian yang menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, yang demikian itu belum bisa menyamai sesuatu yang telah mereka infakkan (walau) satu mud (segenggam) atau seperduanya.” 
(HR. al-Bukhari dan Muslim) 

Bagaimana bisa dikatakan ada titik dekat antara Islam dan Syiah?
 – Seorang muslim menghormati sahabat yang mulia, Muawiyah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan orang Syiah mencelanya, bahkan mengafirkannya.
– Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam dengan Syiah? Padahal Islam mengajarkan penghormatan terhadap sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan Syiah mencercanya dengan segala penghinaan yang mendalam. Bahkan, mereka menyebut beliau munafik dan murtad.
– Islam mengajari umatnya untuk memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, sedangkan Syiah menuduhnya sebagai pelacur.
– Islam mengajari kita untuk memuliakan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, sementara Syiah mencaci maki dan mengafirkan keduanya, serta menggelari keduanya dengan gelar buruk, “dua berhala Quraisy”.
Padahal para sahabat yang dicerca oleh orang Syiah adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Lantas, jika mereka bukan orang-orang terpercaya, bagaimana halnya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka?
Ini sebuah tipu daya musuh Islam. Sungguh, orang-orang Syiah adalah musuh Islam dan kaum muslimin. Mereka menebarkan berbagai kerusakan ke dalam tubuh umat. Berbagai kerusakan itu mereka susupkan melalui beragam cara.

Menyusup ke Kalangan Intelektual dan Masyarakat
Dalam rangka mendekatkan pemahaman Syiah kepada masyarakat, pemerintah Syiah Iran melakukan langkah-langkah pendekatan ke berbagai ormas Islam. Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berhasil dirangkul. Untuk hal ini, pemerintah Syiah Iran mengutus pejabat setingkat menteri guna mengunjungi pimpinan tertinggi ormas Islam. Langkah ini pun diikuti para pengurus organisasi Syiah di daerah untuk berdialog dengan pimpinan daerah ormas Islam.
Penyebaran ajaran Syiah makin meruyak ke kalangan intelektual melalui pendirian Iran Corner. Di beberapa perguruan tinggi berlabel Islam, Iran Corner dijadikan semacam syiahisasi berbaju pertukaran budaya. Paham Syiah langsung ditebarkan di jantung kalangan akademisi yang memang rentan disusupi pemahaman agama warna-warni. Tak kurang dari 12 Iran Corner berhasil didirikan di perguruan-perguruan tinggi berlabel Islam. Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, UIN Ciputat adalah beberapa perguruan tinggi yang telah berhasil dirangkul oleh negara Syiah Iran. Program ini akan terus bergulir sebagai manifestasi dari tekad kaum Syiah untuk menebar pemahaman Syiah Rafidhahnya di Indonesia.
Sisi lain, berbagai yayasan dan pondok pesantren Syiah pun tak tinggal diam. Mereka menggarap kalangan kaum muslimin menengah ke bawah. Melalui pendekatan kemasyarakatan, mereka mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Awal dakwah mereka mengesampingkan perbedaan paham yang ada. Mereka mengusung jargon bahwa tuhan mereka sama, nabi mereka sama, kiblatnya pun sama, serta unsur-unsur yang sama lainnya. Apabila diungkit tentang nikah mut’ah dan kesesatan lainnya, mereka pun akan bertaqiyah. Dusta dalam hal ini adalah ibadah menurut keyakinan mereka.
Beberapa waktu lalu sebagian kaum muslimin sempat dihebohkan dengan munculnya nama Jalaluddin Rakhmat di jajaran caleg salah satu partai politik. Bahkan, rumor dirinya akan menduduki jabatan menteri agama sempat pula merebak. Kemunculan Jalaluddin Rakhmat di barisan partai politik tanpa embel-embel agama ini tentu memiliki target dan tujuan tersendiri. Seiring maraknya intimidasi terhadap kalangan Syiah di berbagai daerah, tentu Jalaluddin Rakhmat telah berkalkulasi menetapkan pilihannya pada salah satu partai politik. Setidaknya, partai politik yang dijadikan pilihannya memiliki satgas yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari itu, partai politik ini memiliki massa fanatik yang lumayan solid. Dengan figur Jalaluddin Rakhmat, kaum Syiah di daerah bisa menyusup dan berlindung di balik kandang banteng.
Setelah melebur, ke depan akan teropini, bahwa mengganggu orang Syiah sama dengan mengganggu kader partai. Itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan satgas dan masa fanatik partai politik satu ini. Implikasi semacam ini tentu yang diharap. Akhirnya, kaum Syiah yang masih minoritas di berbagai daerah bisa terlindungi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41)} [العنكبوت: 41]
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 41)

Lebih dari itu, hal ini diharap bisa memengaruhi para pengikut partai politik satu ini untuk menjadi penganut Syiah atau bersimpati pada kaum Syiah. Nas’alullaha as-salamah.
Menilik perjalanan sejarah, sungguh tidak mengherankan apabila kaum Syiah melakukan gerakan penyusupan. Infiltrasi model Syiah telah ada pendahulunya. Runtuhnya Daulah Abbasiyah, ratusan ribu kaum muslimin tertumpah darah hingga memerahkan air sungai Dajlah di Baghdad, Irak, serta berikutnya air sungai itu berganti warna biru lantaran kitab-kitab karya ulama dibuang ke sana, merupakan akibat ulah penyusup Syiah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya penganut Syiah Rafidhah yang mendendam kepada Ahlus Sunnah, berhasil menyusup ke pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan. Dari sanalah keduanya menyusun makar hingga pasukan Tartar pimpinan Hulagu Khan berhasil masuk Baghdad dan melakukan perbuatan keji. (Lihat Asy-Syariah, edisi 101)
Gerakan penetrasi ke berbagai perguruan tinggi, pemerintahan, ormas-ormas Islam merupakan salah satu strategi dakwah kaum Syiah di Indonesia. Melalui strategi dakwah semacam itu, kaum Syiah berupaya mendekatkan ajarannya kepada umat. Dengan demikian, umat tidak merasa asing dengan paham Syiah, dan akan menganggap bahwa Syiah adalah salah satu mazhab sebagaimana mazhab lainnya yang diakui oleh Ahlus Sunnah. Akhirnya, paham Syiah tidak lagi dianggap sebagai paham sempalan yang sesat dan menyesatkan.

Syiah Itu Radikal
Radikalisme melekat kuat dalam ajaran Syiah. Para ulama mereka mengajarkan kepada penganutnya bahwa seluruh sahabat telah murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.(al-Kulaini dalam al-Kafi 8/245, lihat Taudhihu an-Naba’ ‘an Mu’assisi asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, hlm. 121)
Sikap radikal ini ditanamkan sedemikian rupa sehingga bagi penganut syiah hanya ada ahlu bait dan sahabat yang disebutkan saja yang patut mereka cintai. Selain yang disebutkan di atas, para sahabat lainnya dianggap manusia tercela.
Radikalisme dalam ajaran Syiah tergambar dari ungkapan yang ditulis Jalaluddin Rakhmat saat mengungkap makna syahadah. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Syahadah, atau mencari kematian di dalam jihad fi sabilillah, sebenarnya merupakan salah satu nilai penting dalam perjuangan hidup seorang muslim. Akan tetapi, nilai syahadah di kalangan kaum Syiah merupakan nilai yang relatif lebih meresap daripada yang diresapi oleh kaum Sunni. Ini tercermin dalam slogan-slogan saat terjadinya revolusi Iran, ‘Mihrab Syi’ah adalah mihrab darah,’ ‘Dalam hidup Syiah, tiap hari merupakan Asyura; setiap tempat adalah Karbala,’ atau seperti diucapkan Husein, Imam Syiah yang ketiga, ‘Kematian bagiku hanyalah kebahagiaan (Inni laa aral mauta illas sa’adah)’.” (Islam Alternatif, hlm. 245—246)
Bau amis darah menyengat kuat dalam paham Syiah. Sejarah telah membuktikan betapa kaum Syiah telah menulis perjalanan sejarah umat ini dengan darah. Sebuah radikalisme telah dipertontonkan secara vulgar di hadapan umat. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya laten kaum Syiah juga perlu ditingkatkan. Sejarah berdarah yang telah ditoreh oleh Syiah jangan sekali-kali dilupakan. Sedikit saja kaum Syiah memiliki kekuatan, niscaya kaum muslimin bisa mendapat perlakuan tidak patut. Dalam keadaan lemah saja kaum Syiah berani mencerca para sahabat yang dimuliakan oleh kaum muslimin. Apalagi ketika kekuatan itu ada pada mereka. Entah, apa yang akan diperbuat mereka terhadap kaum muslimin. Nas’alullaha as-salamah.
Kaum Syiah merasa lebih agung dan tinggi kedudukannya dibanding dengan umat lainnya. Bahkan, para imam Syiah memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan para nabi dan rasul sekalipun. Dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (hlm. 47-48), Khomeini mengungkapkan, “Kedudukan para imam kami lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan rasul.” (Rafidhatu al-Yaman ‘ala Marri az-Zaman, asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam, hlm. 484)
Maka dari itu, dengan segala paham sesat dan menyesatkan, akankah paham Syiah dibiarkan? Kaum Syiah di Indonesia benar-benar memanfaatkan celah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang ada di Indonesia, walau harus mencela para sahabat Nabi n, walau dengan cara merendahkan martabat para nabi dan rasul, sebagaimana diungkapkan oleh Khomeini. Masihkah mereka layak mendapat tempat di negeri ini?
Siapa pun kita, selama mencintai Islam sebagai agamanya, hendaknya mewaspadai gerakan kaum Syiah ini. Jangan sampai terulang lagi sejarah yang bersimbah darah. Wallahu a’lam.

Teror Ala Syiah
Pemerintah Malaysia menyikapi secara tegas pemahaman dan penganut syiah. Pihak pemerintah memberi label kepada komunitas Syiah di Malaysia sebagai gerakan yang mempunyai elemen militan. Bahkan, pernah beberapa orang ditahan unit anti terorisme, dan mereka mengaku sebagai pengikut Syiah.
Sebagai sebuah paham, Syiah memiliki doktrin yang menjadikan pengikutnya bersikap militan dan radikal. Revolusi di Iran yang dilakukan kaum Syiah memberi gambaran betapa radikalisme kaum Syiah sedemikian kuat.
Penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Teheran juga memberi sinyal kuat unsur radikalisme dalam komunitas Syiah. Drama penyanderaan yang berawal 4 Nopember 1979 tersebut berlangsung selama 444 hari. Penyanderaan ini didukung pihak pemerintah Iran, bahkan di bawah kendali langsung Khomeini.
Aksi-aksi teror biasanya didukung oleh pemahaman radikal yang membabi buta. Saat musim haji pun, sekelompok pengikut Syiah memanfaatkannya untuk melakukan demo. Khomeini pernah memerintah jamaah haji Iran untuk melakukan demo terhadap pemerintah Saudi. Tragedi 31 Juli 1987 menewaskan ratusan orang. Sebuah tindakan tak patut dilakukan oleh kaum Syiah di Tanah Haram. Kekhusyukan beribadah sirna akibat radikalisme membabi buta yang dilakukan para pengikut syiah. Sejarah tentu mencatat tragedi menyedihkan ini.
Dalam perjalanan sejarah, aksi kaum Syiah diwarnai merah darah. Tengoklah apa yang terjadi di Suriah. Pemerintahan Syiah membantai sekian banyak manusia. Darah tertumpah di bumi Syam. Sebuah tragedi yang memilukan. Mewaspadai gerakan kaum Syiah tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, fakta sejarah telah mengungkapkan tentang perbuatan licik kaum Syiah yang berakhir dengan aksi teror dan banjir darah. Katanya, mereka mencintai Husain, cucu Rasulullah n. Nyatanya, sejarah mengungkap bahwa kaum Syiahlah yang membunuh Husain di Karbala. Mereka licik. Sejarah pun diputarbalikkan. (Lihat Asy Syariah edisi 101)
Lebih dari itu, mewaspadai gerakan kaum Syiah merupakan upaya membentengi umat dari pemahaman sesat yang dijejalkan ke tengah-tengah umat. Apabila dusta menjadi inti ajarannya, lantas kebaikan apa yang bisa diperoleh darinya? Apabila mut’ah dilegalkan, lantas kehidupan bermasyarakat yang bagaimana yang hendak dibentuk? Apabila para imam mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan para nabi dan rasul, lantas agama model apakah yang akan ditanamkan pada umat?
Kerusakan demi kerusakanlah yang akan dituai manakala ajaran Syiah ini menjalar di tubuh umat. Islam justru berlepas diri dari model pemahaman yang diyakini oleh kaum Syiah. Ingatlah, tangan Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi, saat melahirkan agama Syiah ini dilumuri darah. Maka dari itu, tidak berlebihan apabila umat Islam tetap harus mewaspadai ajaran sesat satu ini. Nas’alullaha as-salamah.
Wallahu a’lam.

Sumber :
http://www.manhajul-anbiya.net/gerakan-menyusup-kaum-pendusta/
(Majalah Asy-Syariah edisi 102, hlm. 5—10)

MEREKA MEMBELA SYIAH

Oleh : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahulloh

Islam adalah agama yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para salaf, yaitu para ulama yang seyogianya dikategorikan ulama, seperti para sahabat Nabi dan al-Khulafa ar-Rasyidin. Sebab, mereka adalah penyambung lidah Islam yang mewarisi langsung ilmu-ilmu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Mereka memperjuangkan penegakan akidah Islam dan menuntun generasi selanjutnya untuk berjalan di atas metodenya (manhaj).
Islam tegak di atas akidah mereka yang mempertahankan al-Qur’an dan hadits, agar tidak hilang dan sirna dari umatnya. Itulah perjuangan mereka sebagai ulama, selalu menjadi garda terdepan pembelaan terhadap Islam.
Sungguh aneh kalau predikat ulama ini disematkan kepada mereka yang menyamakan Syiah dengan Sunni, atau menganggap Syiah bagian dari mazhab Islam. Artinya, perlu dipertanyakan status mereka sebagai “ulama”, apakah predikat yang disandangkan oleh umat kepada mereka itu sesuai dengan konsep pemikirannya yang tidak mengacu kepada ilmu ataukah tidak. Sebab, memang jelas bahwa pemikiran mereka bertolak belakang dengan Islam.
Lantas, siapakah yang disebut ulama yang menyejajarkan Syiah dengan Islam, sehingga tidak menyebut Syiah sesat? Ternyata mereka terbilang  pentolan bangsa ini, dianggap sebagai tokoh umat dan tokoh masyarakat yang menaruh simpati kepada Syiah, hingga akhirnya mereka termasuk dalam mata rantai kesesatan Syiah. Inilah kata mereka tentang Syiah.

Prof. Dr. Umar Shihab
“Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam Internasional sebagai bagian dari Islam.”
(rakyatmerdekaonline.com)

Dr. Alwi Shihab (Mantan Menkokesra)
“Bangsa kita sangat membutuhkan ulama-ulama yang mampu melakukan pendekatan antar mazhab (Sunni-Syiah), pendekatan antar-pemikiran dan orientasi. Bangsa kita haus dengan tokoh Islam yang mampu mempersatukan umat. Selama ini yang banyak mengambil tempat adalah mereka yang gemar menyesatkan kelompok lain di luar mereka. Dan kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.”
Pernyataan yang sangat tendensius ini tidak selayaknya muncul dari seorang yang bergelar doktor. Akan tetapi, hal itu bukanlah mustahil ketika diketahui ternyata beliau adalah doktor lulusan Universitas Temple Amerika Serikat!

KH. Said Agil Siradj
“Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Di universitas di dunia mana pun tidak ada yang menganggap Syiah sesat.”
(tempo.co)
Dia juga mengatakan, “Muslim Indonesia yang dikenal Ahlus Sunnah sesungguhnya sudah menjadi Syiah minus Imamah.” (Kompas, 13 Mei 2007)

Prof. Dr. Din Syamsuddin
“Tidak ada beda Sunni dan Syiah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim.” (republika.co.id)

KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur)
“Syiah itu adalah NU plus imamah, dan NU itu adalah Syiah minus imamah.” (rakyatmerdekaonline.com)

KH. M. Maftuh Basyuni SH
“Baik Sunni maupun Syiah punya dasar yang sama, jadi tidak perlu dipertentangkan.” (Kompas, 13 Mei 2007)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
“Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam, dalam perebutan kekuasaan dari masa sahabat, karenanya akidahnya sama, al-Qur’annya dan Nabinya juga sama.” (republika.co.id)

Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif
“Kalau Syiah, di kalangan mazhab dianggap sebagai mazhab kelima.” (okezone.com)

KH. Nur Iskandar SQ
“Kami sangat menghargai kaum muslimin Syiah.” (inilah.com)

Itulah pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh masyarakat yang diulamakan, yang bersandar kepada hawa nafsu. Predikat yang disandangnya setinggi  langit belum tentu menghasilkan pendapat yang positif terhadap Islam. Mereka cenderung overdosis dalam mengambil kesimpulan.

Di dalam tubuh umat Islam, yang bergelar profesor itu banyak. Akan tetapi, hal itu tidak menjadikan jaminan bahwa seseorang agamanya benar. Kalau tujuan mencari ilmu hingga berhasil mencapai gelar doktor atau profesor hanya untuk sematan belaka, tidak berarti mereka mampu dalam ilmu agama. Sebab, dalam perspektif Islam, ilmu agama itu bisa dipelajari oleh siapa saja, tanpa dibatasi oleh doktrin perguruan tinggi yang salah kaprah.
Kaum muslimin hendaknya berhati-hati dan tidak mudah dikelabui oleh pernyataan-pernyataan miring yang bertolak belakang dengan ajaran Islam, yang justru menjadi angin segar bagi Syiah.

Sampai kapan pun, Syiah adalah kelompok yang sesat: sumber hukumnya berbeda dengan kaum muslimin, mereka mengubah isi al-Qur’an, bahkan meyakini bahwa al-Qur’an yang ada sekarang itu tidak lengkap, tidak memercayai hadits karena periwayatnya adalah para sahabat yang menurut mereka telah kafir dan murtad, dan berbagai keyakinan lain yang bukan akidah Islam.

Sumber Majalah Asy Syariah edisi 102 hlm 19–21

Sumber :
http://www.manhajul-anbiya.net/mereka-membela-syiah/

Senin, 26 Desember 2016

PENDEKATAN ANTARA SUNNI DAN SYI'AH, MUNGKINKAH ?

Asy Syaikh Dr. Ali bin Yahya Al Haddady حفظه اللّٰه.

Aqidah Kaum Rafidhah (Hadiah Bagi Para Da'i yang menyerukan pendekatan antara Sunni dan Syi'ah)

Yang pertama : Kesesatan kaum Rafidhah dalam Tauhid Rububiyyah

▪️Sungguh kaum Rafidhah telah sesat dalam tauhid rububiyyah dengan kesesatan yang jauh padahal tauhid tersebut diakui dan diyakini oleh semua umat bahkan makhluk yang paling kafir sekalipun.

▪️Dan penjelasannya ialah bahwasanya kita segenap Ahlussunnah meyakini bahwa Allah Ta'ala ialah satu-satunya pencipta dan pengatur seluruh alam semesta sebagaimana firman Allah Ta'ala :

(( الحمد لله رب العالمين )).

"Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam".

Dan sebagaimana firman Allah Ta'ala :

((يدبر الأمر )).

"Dialah (Allah) yang mengatur segala urusan".

Dan Allah Ta'ala berfirman tentang kaum musyrikin terdahulu :

(( قل لمن الأض ومن فيها إن كنتم تعلمون. سيقولون لله. قل أفلا تذكرون )).

"Katakanlah : milik siapa bumi dan penghuninya jika kalian mengetahui? mereka akan menjawab : milik Allah, katakanlah : mengapa kalian tidak mau mengingat?".

▪️Namun kita dapati diantara keyakinan-keyakinan kaum Rafidhah ialah menisbahkan kepemilikan dan pengaturan alam semesta kepada sebagian makhluk seperti Ali Bin Abi Thalib رضي الله عنه atau kepada sebagian keturunan beliau.

▪️Al Kulaini meriwayatkan dalam bab "Sesungguhnya bumi seluruhnya milik sang imam" dari Abu Abdillah bahwa ia berkata :
"Tidakkah engkau mengetahui bahwa dunia dan akhirat milik sang imam dimana ia meletakkannya dimanapun ia kehendaki dan memberikannya kepada siapapun yang ia kehendaki".

▪️Dan diantara yang menguatkan keyakinan mereka dalam mensejajarkan para imam-imam mereka dengan Allah Ta'ala ialah kedustaan yang dibuat-buat oleh mereka dalam kitab-kitab mereka dan menisbahkannya kepada para imam-imam mereka berupa kemampuan menghidupkan orang-orang mati.

Al Majlisy dalam "Al Bihar" meriwayatkan (dengan sanad ala Syi'ah) bahwa seseorang berkata kepada Ja'far bin Muhammad 'alaihimas salam : "Seorang yang mati di pekuburan ini perintahkanlah kepadanya untuk mendatangiku". Maka Ja'far berkata : "Siapa namanya ?"  maka orang tersebut menjawab : "Namanya Ahmad".
Ja'farpun mengatakan : "Wahai Ahmad berdirilah dengan izin Allah dan dengan izin Ja'far bin Muhammad!", maka iapun berdiri.

▪️Perhatikan ucapannya dalam riwayat tersebut : (berdirilah dengan izin Allah dan izin Ja'far) mereka menjadikan Ja'far sebagai tandingan bagi Allah Ta'ala dimana mayyit berdiri dengan izinnya sebagaimana berdiri dengan izin Allah Ta'ala.

▪️Dan aqidah ini senantiasa diwariskan diantara mereka hingga hari ini.

Al Khomeini berkata :
(Sesungguhnya sang imam memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi serta khilafah takwiniyyah dimana tunduk kepada kekuasaannya semua makhluk di alam semesta ini).

▪️Maka berhak kita bertanya kepada kaum Rafidhah : apabila para imam-imam kalian sebagaimana yang kalian yakini memiliki kemampuan mengatur urusan alam semesta lantas kenapa mereka takut mati ? dan kenapa mereka bersembunyi dari musuh mereka, dan kenapa musuh mereka bisa menimpakan gangguan kepada mereka ? kenapa mereka dipenjara dan dibunuh?

👉Ali رضي اللّٰه عنه mati terbunuh, Al Hasan رضي اللّٰه عنه ad yang a mengatakan  mati karena diracun, dan Al Husain رضي اللّٰه عنه mati terbunuh.

👉Adapun sang imam yang kalian tunggu-tunggu kemunculannya tidaklah yang menghalanginya untuk keluar menurut kalian melainkan takut terbunuh, maka ini merupakan kontradiksi yang tidak seorang berakal untuk membenarkannya, dan dari sisi yang lain tidak mungkin bagi kaum Rafidhah untuk menjawab sikap kontradiksinya tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah dari kedustaan tersebut dan dari kebatilan-kebatilan yang semisalnya.

Yang kedua : Kesesatan kaum Rafidhah dalam Tauhid Uluhiyyah.

▪️Sebagaimana kaum Rafidhah telah sesat dalam tauhid rububiyyah maka mereka juga sesat dalam tauhid uluhiyyah dengan kesesatan yang jauh, ketika kita meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan kita meyakini bahwa memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selainNya adalah syirik akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam berdasarkan firman Allah Ta'ala :

(( واعبدوا اللّٰه ولا تشركوا به شيئا )).

"Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun".

▪️Maka kita dapati kaum Rafidhah tidak memperhatikan sama sekali kepada permasalahan mengesakan Allah dalam ibadah dikarenakan mereka menyerang ayat-ayat tauhid dan ayat-ayat yang memperingatkan dari kesyirikan lalu mereka mentahrif makna-maknanya dan membatalkan makna hakiki yang ditunjukkannya serta memalingkannya kepada makna yang jauh sehingga mereka memaknai perintah untuk bertauhid dengan makna mengesakan Ali رضي اللّٰه عنه dengan imamah setelah Nabi صل اللّٰه عليه وسلم dan mereka memaknai kesyirikan dengan menjadikan imam selain Ali.

▪️Dan atas dasar ini maka barangsiapa yang meyakini bahwa Ali adalah sang imam setelah Nabi صلى اللّٰه عليه وسلم maka dialah seorang yang bertauhid, dan barangsiapa yang yang tidak meyakini Ali sebagai imam setelah Nabi صلى الله عليه وسلم maka ia kafir dan musyrik yang batal semua amalannya dan ia termasuk penghuni neraka dan kekal di dalamnya.
Inilah apa yang disebutkan oleh riwayat-riwayat dalam kitab-kitab rujukan mereka diantaranya adalah penafsiran mereka terhadap firman Allah Ta'ala :

(( ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين )).

"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu jika engkau berbuat kesyirikan niscaya akan batal amalanmu dan niscaya engkau termasuk orang-orang yang merugi".

▪️Mereka mengatakan tentang makna ayat ini : "Yakni jika engkau berbuat syirik dalam bentuk memberikan imamah kepada selain Ali". (Lihat : Al Kafi karya Al Kulainy).

▪️Kemudian setelah itu mereka mensyariatkan syirik akbar terhadap wali-wali mereka berupa berdoa kepada para imam-imam mereka, beristighatsah kepada mereka, menjadikan para imam-imam mereka sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah, bersujud kepada kuburan mereka dan menjadikannya kiblat selain ka'bah serta berusaha untuk mentelantarkan Masjidil Haram sehingga merekapun meremehkan kedudukan ka'bah dan tempat-tempat yang merupakan syiar ibadah haji dan membuat-buat keutamaan-keutamaan bagi Karbala', Kufah dan Qum secara dusta, maka apa yang mereka inginkan setelah itu ? mereka menginginkan untuk menghancurkan islam, merusak ajaran-ajaran islam, menghidupkan kesyirikan dan watsaniyyah (berhalaisme) yang telah Allah padamkan melalui tangan (Nabi) Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mereka mengingin

kan untuk menghalangi manusia dari berhaji ke Baitullah Al Haram serta menginginkan untuk menghalangi manusia dari melakukan shalat di masjid Nabi mereka dan mereka mencurahkan usaha mereka untuk merealisasikan tujuan-tujuan ini dalam keadaan mereka lupa bahwa Allah akan menyempurnakan cahayaNya walaupun kaum musyrikin benci.

Sumber : Risalah yang berjudul "Takhriib Laa Taqriib".

📤Link unduhan risalah : http://www.haddady.com/book/تخريب-لا-تقريب-فصول-من-عقيدة-الرافضة-مه/

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
telegram.me/dinulqoyyim

Jumat, 23 Desember 2016

CUKUPKAH MENJELASKAN KEBENARAN TANPA MEMBANTAH KEBATHILAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah

Seorang yang mendakwahkan agama Allah selalu bersama dua keadaan: memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.

Amar ma’ruf adalah mengajak manusia kepada kebaikan, sedangkan nahi mungkar adalah mengingkari semua hal yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam. Jadi harus ada hal yang ini dan yang itu. Padanya terdapat bantahan yang paling mengena terhadap siapa saja yang mengatakan kepadamu: “Ajarilah manusia yang benar, mereka otomatis akan mengetahui yang salah!” Orang yang semacam ini dia bodoh berlipat. Karena Allah memuji orang-orang yang beriman baik dan maupun wanita karena mereka memiliki sifat suka amar ma’ruf. Amar ma’ruf adalah mengajak manusia. Dan mereka juga melarang dari kemungkaran. Jadi harus ada yang ini dan yang itu.

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan petunjukku dan petunjuk para khalifah yang mendapat hidayah dan lurus, peganglah erat-erat dan gigitlah petunjukku dengan gigi geraham.”

Apakah di sini Nabi shallallahu alaihi was sallam diam saja?! Saya tanya kalian: apakah beliau diam saja?! Tidak, bahkan beliau melanjutkan dengan mengatakan:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ.

“Dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya semua perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.” [1]

Jadi beliau memerintahkan agar menetapi bimbingan As-Sunnah dan beliau juga memperingatkan bid’ah bahkan sebelum bid’ah itu muncul. Maka bagaimana dengan kita pada hari ini dalam keadaan bumi telah penuh dengan berbagai bid’ah?!

Seorang yang mendakwahkan agama Allah secara jujur dan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi was sallam dia akan selalu menyertai yang ini dan yang itu dalam dakwahnya. Dan siapa saja yang mengatakan kepadamu: “Ajaklah manusia kepada kebaikan, otomatis mereka akan mengetahui keburukan!” Maka ketahuilah bahwasanya dia telah bersembunyi dan menyembunyikan kejahatan yang dia tidak ingin tersingkap, karena sesungguhnya seorang muslim yang jujur dan seorang penuntut ilmu salafy sunny atsary –apalagi seorang ulama sunny– tidak akan menerima ucapan semacam ini.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Dengan sebab apa (kalian menjadi umat terbaik)?!

تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110)

Dua hal ini (menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar) sama-sama dilakukan.

وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.

“Dan kalian beriman kepada Allah, seandainya ahli kitab mau beriman niscaya hal itu lebih baik baik mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Kita berlindung kepada Allah dari ketergelinciran lisan dan segala puji bagi Allah yang menjaga Kitab-Nya.

وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.

“Dan kalian beriman kepada Allah, seandainya ahli kitab mau beriman niscaya hal itu lebih baik baik mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Jadi kebaikan itu akan datang jika dibangun di atas dua perkara ini secara berbarengan, yaitu:

تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110)

Jadi orang yang mengatakan kepadamu: “Jelaskanlah kebenaran dan jangan engkau bantah kebathilan!” Maka orang ini telah menegakkan perkara yang paling bathil dan dia ingin menutup-nutupinya, namun alangkah jauhnya hal itu.

Jadi kita kan selalu menyertai dua perkara ini semuanya, karena kebaikan akan terwujud pada perkara ini dan pertolongan dari Allah terdapat pada hal ini. Maka harus ada usaha mendakwahkan kebenaran dan pertunjuk serta mengingkari kebathilan yang menyelisihi kebenaran dan pertunjuk tersebut.

Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=mOCbZmxze6w

Download Audio di Sini

Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 13 Ramadhan 1435 H

Sumber :

http://forumsalafy.net/cukupkah-menjelaskan-kebenaran-tanpa-membantah-kebathilan/

Rabu, 07 Desember 2016

KEBAIKAN DIBALIK SEBUAH MUSIBAH

Sudah menjadi suatu ketentuan dan ketetapan yang Allah subhanahu wata’ala takdirkan bahwa dalam kehidupannya, manusia akan selalu mengalami ujian dan cobaan. Terlebih seseorang yang mengaku bahwa ia beriman kepada Allah subhanahu wata’ala maka sudah barang tentu ia akan senantiasa diuji. Jujurkah keimanan yang ia ikrarkan, atau malah ia berdusta dalam klaim keimanannya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam kitab-Nya,

(3)الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“( 1 ) Alif laam miim ( 2 )   Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? ( 3 )   Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dalam beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta dalam keimanannya.”al-Ankabut: 1-3)

Allah subhanahu wata’ala akan menguji kejujuran iman hamba-hamba-Nya. Maka beruntunglah seseorang yang ketika diuji ia berhasil keluar sebagai orang yang mempertahankan keimanannya dan benar-benar mengambil pelajaran dari ujian tersebut. Tidak seperti kaum munafikin yang berdusta atas keimanannya, maka mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari ujian itu dan terus berada dalam kesesatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

    (126)أَوَلا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”at-Taubah: 126)

Ujian yang menimpa seorang hamba sejatinya tidak mutlak sebuah keburukan, karena terkadang Allah subhanahu wata’ala menghendaki suatu kebaikan pada musibah yang dialami hamba-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda,

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barang siapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan padanya, Allah akan mengujinya” HR. al-Bukhari)

Sebuah musibah akan menjadi kebaikan jika orang yang tertimpa musibah tersebut keluar dengan menyandang predikat sabar. Sehingga musibah itu pun menjadi kaffarah (penghapus) atas dosa-dosanya. Allah subhanahu wata’alaberfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” az-Zumar: 10)

والله يحب الصابرين

“Allah mencintai orang-orang yang sabar”)

Salah satu yang menunjukan kebaikan dalam suatu musibah adalah sebuah kabar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya suatu balasan sebanding dengan besarnya musibah yang dialami. Barang siapa ridho atas musibah tersebut maka ia akan mendapatkan keridhoan Allah. Tapi barang siapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah”. HR. at-Tirmidzi)

Kita perhatikan hadits di atas, ternyata dibalik musibah tersimpan keridhaan Allah subhanahu wata’ala. Akan tetapi keridhaan tersebut hanya bagi orang-orang yang ridha terhadap musibah yang menimpanya. Ia meyakini bahwa musibah itu datang dari Allah subhanahu wata’ala, dan sesuatu yang datang dari Allah subhanahu wata’ala tentu mengandung sebuah hikmah besar yang sering kali tidak kita ketahui. Allahsubhanahu wata’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Itulah beberapa kebaikan besar yang berada dibalik sebuah musibah. Di antara kebaikan tersebut; sebagai sarana untuk memperbaiki diri, ladang untuk mendapat ajr (pahala) tanpa batas dari Allah subhanahu wata’ala, kesempatan untuk meraih keridhaan-Nya dan lainnya.

Tentu untuk mendapatkan hal tersebut haruslah memenuhi syarat yang telah dijelaskan di atas.

Semoga Allah subhanahu wata’alamenjadikan kita sebagai hamba-hambanya yang bisa mengambil kebaikan di balik musibah-musibah yang menimpa. Amiin.

wallahu a’lam

Sumber :
http://mahad-assalafy.com/2016/12/06/kebaikan-dibalik-musibah/

Selasa, 06 Desember 2016

DAFTAR NAMA-NAMA PARA PENYIMPANG DAN BANTAHAN-BANTAHAN KEPADA MEREKA

*1.Ibrahim Sakran.*
Disini kenali kondisinya
(Mimbar Islami):
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=134054

*2.Ibrahim Ad Duwaisyi.*
Kumpulan ucapan Ulama tentang tahdzir darinya dan kaset-kasetnya.
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=30498

*3.Ibrahim Ar Ruhaili.*
Kumpulan ucapan Ulama tentang tahdzir darinya dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=33997

*4.Abu Bakar Al Jazairi.*
Kumpulan ucapan Ahli ilmu tentangnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=13830

*5.Abu Mush'ab Az Zarqawi.*
Tahdzir untuk yang jauh dan dekat dari Khariji Abu Mush'ab Az Zarqawi:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=57892

*6.Ahmad Al Kabisi Al Iraqi*
Di sini bantahan kepada Ahmad Al Kabisi dan penjelasan kondisinya:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=128217

*7. Shadiq Al Ghiryani.*
Kumpulan bantahan Ulama kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14779

*8.Al Hasyimi* pemilik cannel pribadi, bantahan kepadanya dan penjelasan kondisinya:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124417

*9.Ihsan Al Utaibi*
Di sini temukan bantahan kepada Ihsan Al Utaibi:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=22956

*10.Ahmad Naqib*
Bantahan kepada Ahmad Naqib dan penjelasan perihalnya:
http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=7690

*11.Ahmad Salam*
Di sini temukan kesesatan Ahmad Salam dan bantahan kepadanya:
http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=1455

*12.Ahmad Khalili* mufti Amman.
Bantahan kepadanya dan penjelasan perihalnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=16590

*13.Abulhasan Al Ma'ribi*
Di sini temukan kesesatannya dan bantahan kepadanya:
http://www.rabee.net/show_book_group.aspx?id=4

*14.Abu Ishaq Al Huwaini*
Kumpulan ucapan Ulama dan para Syaikh tentang Abu Ishaq Al Huwaini:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=127580

*15.Usamah bin Laden*
Kumpulan ucapan Ulama tentang bantahan kepadanya dan penjelasan perihalnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=3763

*16.Usamah Al Qushi*
Kumpulan bantahan Ulama dan para Syaikh kepada Usamah Al Qushi:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=30636

*17.Al Maghrawi*
Kumpulan bantahan Ulama dan para Syaikh kepadanya:
http://vb.noor-alyaqeen.com/t19627/ 

*18.Al Buthi*
Kumpulan rusaknya Al Buthi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=37091

*19.'id Syarifi*
Bantahan atas kesesatannya dan penjelasan kondisinya:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=126937

*20.Basyir bin Hasan At Tunisi*
Di sini temukan bantahan kepadanya dan penjelasan kondisinya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=13692

*21.Hamzah Al Malyabari*
Kenali Al Malyabariyah dan kesesatannya:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=124894

*22.Khalid Jubair*
Bantahan kepadanya dan penjelasan kondisinya:
http://vb.noor-alyaqeen.com/t20409/ 

*23.Khalid Rasyid*
Di sini temukan penjelasan perihal Takfiri ini:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=11027

*24.Khalid bin Abdullah Mushlih*
Di sini kenali siapa orang ini:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=35103

*25.Khalid Syukri*
Tahdzir darinya dan dari orang yang tertipu dengannya:
http://m-noor.com/showthread.php?p=35173

*26.Sayid Quthub*
Kumpulan rusaknya Sayid Quthub yang telah mengkafirkan masyarakat islami sejak dari dini:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=3605

*27.Salman Al Audah*
Kumpulan rusaknya Quthbi-Salman Al Audah dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthre...t=13693&page=3

*28.Sulaiman Ulwan*
Penjelasan perihal Takfiri Sulaiman Ulwan:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=35097

*29.Salim Al Hilali*
Penjelasan perihal Salim Al Hilali:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=128224

*30.Sulaiman Jubailan*
Penjelasan perihal Sulaiman Jubailan:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=100167

*31.Safar Al Hawali*
Kumpulan rusaknya Safar Al Hawali dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14607

*32.Sa'ad Al Buraik*
Penjelasan tentang Sa'ad al Buraik dan bantahan kepadanya:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=35293

*33.Sa'id bin Musafir al Qahthani*
Penjelasan perihal Sa'id bin Musafir dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=11616

*34.Salim Al Ajmi*
Penjelasan perihal Salim Al Ajmi:
http://4i.ae/4KHB

*35.Sultan 'id*
Penjelasan perihal Sultan 'id:
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=26325

*36.Syafi al Ajmi*
Bantahan kepadanya dan penjelasan tentang perihalnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=35100

*37.Shalih Al Maghamisi*
Penyimpangan Shalih Al Maghamisi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=13010

*38.Shalih bin Abdullah Al Ushaimi*
Bantahan kepada Shalih Al Ushaimi dan penjelasan perihalnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=31824

*39.Shalih Al Asmari*
Kumpulan yang terang untuk mengungkap perihal Shalih Al Asmari:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=35011

*40.Thariq Habib*
Bantahan kepada Thariq al Habib
dan Samahat Mufti mengajaknya untuk bertaubat dan istighfar:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=121616

*41.Thariq Suwaidan*
Kumpulan rusaknya ikhwani Thariq Suwaidan dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=13760

*42.'Aidh al Qarni*
Kumpulan rusaknya Aidh Al Qarni dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=29114

*43.Abdurrahman Abdulkhaliq*
Kumpulan rusaknya Abdurrahman bin Abdulkhaliq dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=11153

*44.Abdulaziz Atturaifi*
Kumpulan rusaknya Abdulaziz atturaifi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=35098

*45.Abdulaziz Rais*
Peringatan cerdas dalam bantahan kepada Abdulaziz Rais:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=11062

*46.Abdullah Muthlak*
Penjelasan perihalnya dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=16729

*47.Abdullah Sa'ad*
Penjelasan perihal Abdullah Sa'ad dan bantahan kepadanya:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=82108

*48.Abdullah bin Jibrin*
Kumpulan ucapan Ahli ilmu tentang ibnu Jibrin:
http://m-noor.com/showthread.php?p=28016

*49.Abdullah Nafis*
Penjelasan perihal ikhwani Abdullah Nufaisi:
http://www.alrbanyon.com/vb/archive/...p/t-11544.html

*50.Abdullah Al Ghaniman*
Bantahan kepada Abdullah Al Ghaniman dan penjelasan perihalnya:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=32689

*51.Abdulmalik Ramadhani*
Penjelasan perihal Abdulmalik Ramadhani dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=12276

*52.Abdulmajid Az Zindani*
Kumpulan rusaknya Abdulmajid az zindani dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=37052

*53.Ajil An nasymi*
Bantahan kepada Ajil An nasymi dan penjelasan kesesatannya:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=135431

*54.Umar Abdulkafi*
Penjelasan yang mengobati dalam menguak kesalahan-kesalahan Umar Abdulkafi:
http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=1989

*55.Amr Khalid*
Kumpulan rusaknya Amr Khalid dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=11653

*56.Ali Al Jufri, yang berjuluk Habib Al Jufri*
Penjelasan perihal Ali Al Jufri dan bantahan kepadanya:
http://4i.ae/mj5w

*57.Ali Al Halabi*
Kumpulan bantahan kepada Al Halabi yang sesat dan penjelasan perihalnya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthre...t=12362&page=6

*58.Adnan Ar'ur*
Kumpulan bantahan kepada Adnan Ar'ur
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=12461

*59.AbdulHamid Kasyk*
Ucapan Ahli ilmu tentang Abdulhamid Kasyk:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=27403

*60.Abduladhim Badawi*
Bantahan kepadanya dan penjelasan perihalnya:
http://www.nour-elislam.net/vb/showthread.php?t=605
*61.Abdullatif Bazmul*
Kumpulan rusaknya Hadadi Abdullatif Bazmul dan bantahan-bantahan:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=33581

*62.Abdurrahman Dimasyqiyah*
Bantahan kepada Abdurrahman Dimasyqiyah:
http://www.dafiri.com/node/522

*63.Abdurrazaq Syayiji*
Kumpulan rusaknya Abdurrazaq Syayiji dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/archive/...p/t-11420.html

*64.Abdulkarim Al Khudhair*
Bantahan kepada Abdulkarim Al Khudhair:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=16726

*65.Abdullah Al Ubailan*
Sikap-sikap terhadap fatwa-fatwa Abdullah Al Ubailan:
http://www.bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=11210

*66.Alwi Abdulqadir Saqqaf*
Kumpulan rusaknya Alwi Abdulqadir Saqaf dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14586

*67.Muhammad Abdulmakshud*
Kumpulan rusaknya Muhammad Abdulmakshud dan bantahan kepadanya
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=4077

*68.Falih Al Harbi*
Kumpulan rusaknya Falih Al Harbi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14855

*69.Muhammad Mutawali Asy Sya'rawi*
Ucapan Ulama yang Mumpuni tentang Mutawali Asy Sya'rawi Sufi Quburi:
http://vb.noor-alyaqeen.com/t7344/ 

*70.Muhammad bin Surur*
Kumpulan bantahan kepada Muhammad bin Surur:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=8115

*71.Muhammad Al Arifi*
Kumpulan rusaknya Al Qashash Muhammad Al Arifi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=12413

*72.Muhammad Hasan Wild Dadou.*
Kumpulan rusaknya dan penyimpangan Muhammad Wild Dadou dan bantahan kepadanya:
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=7977

*73.Muhammad Hasan*
Keterangan dan penjelasan tentang perihal Muhammad Hasan:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=3765

*74.Muhammad Husain Yaqub*
Kumpulan rusaknya Quthbi Qashshash Muhammad Husain Yaqub dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=12989

*75.Muhammad Mukhtar Syinqithi*
Ucapan Ulama tentang Muhammad Mukhtar Syinqithi:
http://www.sahab.net/forums/?showtopic=34493

*76.Muhammad Shalih Munajid*
Kumpulan ucapan Ulama tentang Muhammad Shalih Munajid:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=114151

*77.Manna' Al Qaththan*
Penjelasan perihal Mana' Al Qaththan:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=56795

*78.Masyhur Hasan Alu Salman*
Kumpulan ucapan Ahli ilmu tentang Masyhur Hasan Salman:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=34239

*79.Mahmud Al Mishri*
Bantahan kepada Mahmud Al Mishri yang berkunyah dengan Abu Ammar:
http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=8838

*80.Nashir Umar*
Kumpulan rusaknya Takfiri Nashir Umar dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?p=37071

*81.Nabil Al Audhi*
Kumpulan rusaknya Quthbi Nabil Al Audhi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14346

*82.Walid Aththabthabai*
Penjelasan perihal Walid Aththabthabai dan bantahan kepadanya:
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=3946

*83.Wasim Yusuf*
Kumpulan bantahan kepada Wasim Yusuf:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=15264

*84.Wajdi Ghanim*
Bantahan kepada takfiri Wajdi Ghanim:
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=17271

*85.Yusuf Qardhawi*
Kumpulan bantahan yang membakar kepada mufti ikhwan Yusuf Qardhawi
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=3384

*86.Yahya Al Hajuri*
Kumpulan bantahan kepada Yahya Al Hajuri
http://www.m-sobolalhoda.net/salafi/...ead.php?p=5465

*87.Hisyam Bili*
Bantahan kepada Hadadi baru Hisyam Bili:
http://www.alqayim.net/vb/showthread.php?t=1707

*88.Mushtafa Al Adawi*
Kumpulan rusaknya Quthbi Mushtafa Al Adawi dan bantahan kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=10930

*89.Yasir Birhami*
Kumpulan rusaknya Quthbi Yasir Birhami dan bantahan kepadanya
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=13660

*90.Hasan At Turabi*
Kumpulan rusaknya Hasan At Turabi dan bantahan Ulama Salafiyin kepadanya:
http://www.alrbanyon.com/vb/showthread.php?t=14920

*91.Salim Thawil*
Penjelasan penyimpangan Salim Thawil:
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=30517

Sumber :

http://bit.ly/IniFaktaBukanFitnah
http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=20009&page=4

Catatan:
*Daftar nama-nama ini bukan sebagai pembatasan,  tapi sebagai contoh saja.*

Minggu, 04 Desember 2016

Bagaimana Al-Qur’an Menjadi Obat Hati?

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah ditanya, “Bagaimana menjadikan al-Qur’an  sebagai obat hati? Apakah hanya dengan ruqyah saja?” 
 
Beliau hafizhahullah menjawab:
Tidak. Ruqyah hanyalah salah satu cara dari sekian tata cara pengobatan. Terkadang ruqyah dilakukan bukan untuk mengobati hati, akan tetapi untuk mengobati salah satu anggota tubuhmu selain hati. Al-Qur’an menjadi obat bagi hati dengan menyembuhkan kebutaan padanya, juga dengan menghilangkan kebodohan darinya dengan memberikan cahaya padanya yaitu cahaya ilmu dan ma’rifah, yakni mengenal Allah jalla wa ala dengan Nama-Nama-Nya yang indah dan Sifat-Sifat-Nya yang tinggi yang telah Ia sifatkan untuk diri-Nya dalam al-Qur’an dan telah diperkenalkan dengannya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada manusia melalui sunnahnya.

al-quranMaka jika engkau mengenal Allah subhanahu wata’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan hatimu tentram dengan hal tersebut, maka sungguh engkau telah memuliakan Rabb yang Maha Agung itu, engkau telah melakukan sesuatu yang Ia ridhai, dan engkau juga telah terhindar dari kemurkaan-Nya. Maka ini merupakan obat bagi hati dari maksiat dan berbagai penyakit.
Al-Qur’an juga merupakan obat bagi hati dari penyakit keraguan dan kesangsian yang menggerogoti hati. Jika engkau membaca al-Qur’an, niscaya akan lenyap keragu-raguan tersebut dengan seizin Allah tabaraka wata’ala. Jika engkau membaca ayat tentang al-Ba’ts (hari kebangkitan), akan didapati bahwa perkara tersebut begitu mudah bagi Allah tabaraka wata’ala, tentu keraguan pada perkara ini pun akan hilang. Jika engkau membacanya, engkau akan mengagungkan Allah subhanahu wata’ala atas penciptaan langit dan bumi serta apa yang berada di dalamnya. Kau akan mengetahui besarnya kuasa Allah tabaraka wata’ala yang dengannya akan melahirkan rasa khauf (takut) dan khasyah (takut disertai pengagungan) kepada-Nya. Kondisi seperti ini hanya dirasakan oleh orang-orang yang beriman saja seperti yang Allah subhanahu wata’ala firmankan (artinya),

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (al-Isra’: 82). 

Maka rahmat dan penawar tersebut, itulah obat hati. Dan inilah yang Allah subhanahu wata’ala maksudkan dalam firman-Nya (artinya), 

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.( 58 ) Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus: 57-58).


Diringkas dari fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
http://miraath.net

Rabu, 30 November 2016

Hukuman Bagi Pelaku Terorisme Dalam Syari’at Islam

Dalam Keputusan Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama (Lembaga Ulama Besar) No.148 tanggal 12/1/1409 H yang dimuat oleh majalah Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy edisi 2 hal.181 dan majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah edisi 24 hal.384-387, dikeluarkan keputusan dari Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama dan kemudian keputusan ini disetujuhi oleh para anggota majelis seperti syeikh Ibnu Bazz, syeikh Ibnu ’Utsaimin, syeikh ’Abdul ’Aziz Alu Syeikh, syeikh Sholih Al-Fauzan, syeikh Sholih Al-Luhaidan dan 12 anggota yang lainnya.

Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama dalam sidangnya yang ke-32 yang diselenggarakan di kota Thaif dari tanggal 8/1/1409 – 12/1/1409 H, berdasarkan bukti-bukti yang kuat berkaitan dengan banyaknya aksi-aksi perusakan yang telah menelan korban yang sangat banyak dari kalangan orang-orang yang tidak berdosa dan telah rusak karenanya (sesuatu yang) banyak dari harta benda, hak-hak milik maupun fasilitas-fasilitas umum baik di negeri-negeri Islam maupun yang di negeri lain yang dilakukan oleh orang-orang yang lemah atau hilang imannya dari orang-orang yang memiliki jiwa yang sakit dan dendam. Diantaranya menghancurkan rumah-rumah dan membakarnya baik tempat-tempat umum maupun yang khusus, menghancurkan jembatan-jembatan dan terowongan-terowongan, peledakan pesawat atau membajaknya. Melihat kejadian-kejadian seperti ini, beberapa negara baik yang dekat maupun yang jauh dan karena Arab Saudi sama seperti negara-negara lainnya, memiliki kemungkinan akan diserbu oleh aksi-aksi perusakan ini. Maka Majelis Hai‘ah Kibar ‘Ulama melihat sangat pentingnya untuk menetapkan hukuman bagi pelakunya sebagai langkah preventif untuk mencegah orang-orang dari melakukan gerakan perusakan baik gerakan tersebut dilakukan terhadap tempat-tempat umum dan sarana-sarana milik pemerintah maupun ditujukan kepada yang lainnya dengan tujuan untuk merusak dan mengganggu keamanan dan ketentraman.
Majelis telah meneliti apa yang disebutkan oleh para ulama bahwa hukum-hukum syari’at secara umum mewajibkan untuk menjaga 5 perkara pokok dan memperhatikan sebab-sebab yang menjaga kelestarian dan keselamatannya, yaitu : agama, jiwa, kehormatan, akal dan harta. Dan Majelis telah memperoleh gambaran akan bahaya-bahaya yang sangat besar yang timbul akibat Jarimah (perbuatan keji) pelampauan batas terhadap Hurumat (hak-hak suci) kaum muslimin pada jiwa, kehormatan dan harta mereka dan apa-apa yang disebabkan oleh aksi-aksi perusakan ini berupa hilangnya rasa keamanan umum dalam negara, timbulnya kekacauan dan kegoncangan dan membuat takut kaum muslimin atas dirinya maupun harta bendanya.
Allah ‘Azza wa Jalla menjaga manusia ; agama, badan, jiwa, kehormatan, akal dan harta bendanya dengan disyari’atkannya hudud (hukum-hukum ganjaran) dan uqubah (hukuman balasan) yang akan menciptakan keamanan secara umum dan khusus.
Dan di antara yang menjelaskan hal tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa : barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”. (QS. Al-Ma`idah : 32).
Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik (secara bersilangan), atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan bagi mereka di akhirat siksaan yang besar”. (QS. Al-Ma`idah : 33).
Dan penerapan hal tersebut merupakan jaminan untuk meratakan (menyebarkan) rasa aman dan ketentraman dan mencegah orang yang akan menjerumuskan dirinya dalam perbuatan dosa dan melampaui batas tehadap kaum muslimin pada jiwa-jiwa dan harta benda mereka. Dan jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat bahwasanya hukum muharabah (memerangi pembuat kerusakan) di kota-kota dan selainnya adalah sama, dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
هُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ
“Dan berupaya membuat kerusakan di muka bumi”.
Dan Allah Ta’ala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan membinasakan tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai perusakan”. (QS. Al-Baqarah : 204-205).

Dan (Allah) Ta’ala berfirman :
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya”.(QS. Al-A’raf : 56,85).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala : “(Allah) telah melarang membuat kerusakan di muka bumi dan apa-apa yang membahayakannya setelah diperbaikinya karena sesungguhnya apabila perkara-perkara berjalan di atas As-Sadad (lurus dan baik) kemudian terjadi kerusakan setelah itu maka itu adalah sesuatu yang paling berbahaya atas para hamba maka (Allah) Ta’ala melarang hal tersebut”.
Dan berkata Al-Qurthuby : “(Allah) Subhanahu Wa Ta’ala melarang setiap kerusakan sedikit maupun banyak setelah perbaikan yang sedikit maupun banyak maka hal ini (berlaku)
secara umum menurut (pendapat) yang benar dari berbagai pendapat (yang ada)”.
Berdasarkan penjelasan di atas dan karena apa yang telah lalu penjelasannya melampaui perbuatan-perbuatan para perusak yang mereka itu memiliki target-target khusus dimana mereka mengejar hasilnya berupa harta benda atau kehormatan. Dan sasaran mereka (para pelaku teror itu-pen.) adalah mengganggu keamanan dan merobohkan bangunan umat dan membongkar aqidahnya dan melencengkannya dari manhaj Rabbany (manhaj yang haq).
Maka majelis dengan sepakat memutuskan (hal-hal) sebagai berikut :
Pertama : Siapa yang terbukti secara syar’i melakukan perbuatan dari perbuatan-perbuatan terorisme dan membuat kerusakan di muka bumi yang menyebabkan gangguan keamanan dan menganiaya jiwa-jiwa dan harta benda baik milik khusus maupun yang milik umum seperti menghancurkan rumah-rumah, mesjid-mesjid, sekolah-sekolah atau rumah sakit, pabrik-pabrik, jembatan-jembatan, gudang-gudang senjata, penampungan-penampungan air, fasilitas-fasilitas umum untuk baitul mal seperti saluran-saluran/pipa-pipa minyak dan menghancurkan pesawat atau membajaknya dan yang semacamnya, maka hukumannya adalah dibunuh berdasarkan kandungan ayat-ayat di atas bahwasanya perusakan di muka bumi yang seperti ini mengharuskan penumpahan darah si perusak. Dan karena bahaya dan kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan perusakan adalah lebih besar dari bahaya dan kerusakan pembegal jalanan yang melampaui batas kepada seseorang lalu membunuh dan merampas hartanya,maka Allah telah menetapkan hukumannya dalam apa yang tersebut dalam ayat Al-Harabah (QS. Al-Ma`idah : 33 di atas-pen.).
Kedua : Bahwasanya sebelum menjatuhkan hukuman sebagaimana point di atas (yaitu dibunuh-pen), harus menyempurnakan Al-Ijra`at (urusan, administrasi) pembuktian yang lazim di Pengadilan-Pengadilan syari’at, Hai‘ah At-Tamyiz dan Mahkamah Agung dalam rangka bara`atun lidzdzimmah (pertanggungjawaban di hadapan Allah) dan kehati-hatian terhadap nyawa. Dan untuk menunjukkan bahwasanya negeri ini (Arab Saudi-pen.) terikat dengan segala ketentuan syari’at untuk membuktikan kejahatan dan menetapkan hukumannya.
Ketiga : Majelis memandang perlunya menyebarkan hukuman ini melalui media massa.
Dan salam dan shalawat semoga senantiasa terlimpahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga dan shahabatnya.
 
(Dikutip dari http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=738)

Sumber :
http://salafy.or.id/blog/2009/09/21/hukuman/

Minggu, 27 November 2016

QUNUT NAZILAH UNTUK MUSLIMIN ROHINGYA MYANMAR

bismillahirrohmanirrohim
qunut-nazilah-untuk-muslimin-rohingya-myanmar

Himbauan Asatidzah Salafiyyin Terkait Himbauan Pemerintah Tentang Qunut Nazilah


الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، نبينا محمد وعلى آله وصحبه، وبعد:
Mengingat :
Peristiwa pembantaian genosida yang menimpa saudara-saudara kita seiman di Rohingya Myanmar dengan cara-cara yang sangat bertentangan dengan prikemanusiaan.

Himbauan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama agar kaum muslimin Indonesia melakukan Qunut Nazilah, maka :

Asatidzah menghimbau seluruh Salafiyyin di ma’had-ma’had, atau lainnya untuk melakukan Qunut Nazilah pada shalat lima waktu, sebagai perwujudan ukhuwwah Islamiyyah untuk saudara-saudara kita muslimin Rohingya Myanmar dan ketaatan kita terhadap himbauan pemerintah Indonesia.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Rabu, 23 Shafar 1438 H – 23 November 2016 H
ttd _Asatidzah_ :

Muhammad as-Sewed
Luqman Baabduh
Qomar Suaidi
Ruwaifi bin Sulaimi
Usamah Mahri
Abdush Shomad Bawazir
Syafrudin
Muhammad Sarbini
Abdul Haq
Abdullah Nahar
Muslim Abu Ishaq
Abdurrahman Mubarak
Ihsan Abul Abbas
Askari Abu Muawiyah
Muhammad Afifuddin
Ahmad Khodim
Abdul Jabbar
Ayip Syafrudin
…………………………………

Beberapa Penjelasan Penting
1. Qunut Nazilah baru dilakukan oleh kaum muslimin ketika ada perintah atau izin dari pemerintah muslimin. Demikian menurut pendapat yang benar.
 
2. Qunut nazilah dilakukan setelah ruku’ pada rakaat terakhir. Dilakukan pada semua shalat lima waktu, baik shalat Jahriyyah maupun Sirriyyah.
Adapun pada Shalat Jum’at, maka tidak qunut. Karena do’anya bisa dilakukan ketika khutbah

3. Disyariatkan kepada para makmum untuk mengaminkan do’a qunut nazilah. Disyariatkan pula mengangkat tangan bagi imam dan makmum. Tidak perlu mengusap wajah ketika mengakhiri do’a.

4. Dalam shalat sirriyyah, do’a qunut nazilah tetap dibaca jahr (dikeraskan).

5. Dalam doa qunut nazilah tidak ada teks do’a tertentu. Maka hendaknya berdo’a dengan doa yang sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya :

اللهم انصر إخواننا المستضعفين في راهنيا
اللهم عليك بأعدائك أعداء الدين
اللهم عليك بهم فإنهم لا يعجزونك
اللهم أرنا فيهم عجائب قدرتك
اللهم أنزل عليهم بأسك الذي لا يرد عن القوم المجرمين
atau doa lainnya yang sesuai.
Lafazh di atas hanya sekedar contoh, tidak harus persis seperti itu.

6. Hendaknya do’anya tidak meluas, hanya berkaitan dengan peristiwa yang ada. Gunakan lafazh-lafazh yang mencakup, jangan berpanjang-panjang, dan jangan sampai memberatkan para makmum.

7. Suatu kesalahan apabila dalam do’a qunut nazilah membaca do’a :
اللهم اهدنا فيمن هديت …. إلخ
karena itu merupakan doa dalam qunut witr.
Tidak dibenarkan pula membaca shalawat Nabi dalam qunut nazilah.

══════ ❁✿❁ ══════


Sumber :
http://tukpencarialhaq.com/2016/11/23/qunut-nazilah-untuk-muslimin-rohingya-myanmar/#more-13780

Situs Resmi  http://www.manhajul-anbiya.net

Kamis, 17 November 2016

KEBENARAN BUKAN DIUKUR DENGAN MANUSIA, TAPI MANUSIA YANG DIUKUR DENGAN KEBENARAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وكثير من الناس يزن الأقوال بالرجال، فإذا اعتقد في الرجل أنه معَظَّم قَبِل أقوالَه وإن كانت باطلةً مخالفةً للكتاب والسنة، بل لا يصغي حينئذ إلى مَنْ يردّ ذلك القول بالكتاب والسنة، بل يجعل صاحبه كأنه معصوم.
وإذا ما اعتقد في الرجل أنه غير معَظَّم ردَّ أقوالَه وإن كانت حقاً، فيجعل قائل القول سبباً للقبول والرد من غير وزن بالكتاب والسنة.

“Banyak orang yang menilai perkataan dengan melihat orang-orang yang mengucapkannya, jadi jika dia meyakini bahwa seseorang itu dimuliakan, maka dia menerima ucapan-ucapannya, walaupun bathil dan bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah,

bahkan ketika itu dia tidak mau mendengarkan siapa saja yang membantah ucapan tersebut dengan al-Qur’an dan as-Sunnah,

bahkan dia menjadikan orang yang mengucapkan kebathilan tersebut seakan-akan orang yang ma’shum.

Sebaliknya; jika dia meyakini bahwa seseorang itu tidak dimuliakan, maka dia menolak perkataan-perkataannya, walaupun sesuai dengan kebenaran. Jadi dia menjadikan orang yang mengucapkan sebagai sebab diterima dan ditolaknya sebuah perkataan, tanpa menimbangnya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

***

[Jami’ul Masail, jilid 1 hlm. 463]

Sumber :

http://forumsalafy.net/kebenaran-bukan-diukur-dengan-manusia-tapi-manusia-yang-diukur-dengan-kebenaran/

Jumat, 11 November 2016

Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi Batil

Menyedihkan, negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi fenomena kesyirikan dalam soal “tabaruk” sangat banyak dijumpai.
Sebagian komunitas meyakini bahwa mata air tertentu memiliki berkah. Manusia pun berdatangan untuk singgah berendam (kungkum), mandi, atau meminumnya dengan berbagai harapan, untuk dirinya, keluarga, kesembuhan penyakit, kelancaran usaha, dan seterusnya.
Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi BatilApakah Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa air tersebut diberkahi? Adakah izin dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya bertabaruk dengan air tersebut? Tidak diragukan semua perbuatan dan keyakinan terhadap mata air tersebut adalah bentuk kesyirikan.
Ritual Suran di kota Solo yang sarat dengan kesyirikan juga sangat masyhur. Sebuah kirab di malam 1 Sura digelar di Kraton Surakarta Hadiningrat. Dalam acara itu “Kebo Kiai Slamet” diumbar (dilepaskan).
Ya, Kebo Bule Kiai Slamet sebagai “Cucuking Lampah” kirab di malam itu. Konon, kebo bule adalah hewan kesayangan Susuhunan dan dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti oleh masyarakat Solo dan sekitarnya. Lautan manusia berebut tinja (kotoran), kencing, atau setidaknya menyentuh Kiai Slamet; ngalap berkah dari kerbau tersebut. Inikah Islam? Allahul musta’an.

Sungguh, pemandangan ini sangat menyedihkan dan menakutkan. Mengapa manusia yang telah Allah subhanahu wa ta’ala beri akal hilang akalnya? Tidakkah mereka sadar bahwa kesyirikan adalah dosa yang tidak terampuni?! Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa: 48)

Masih di negeri ini pula, seorang bocah tiba-tiba tenar dengan batu “keramat” yang dimilikinya. Dialah Ponari yang namanya sempat melejit memenuhi ruang media pada 2009.
Manusia berjubel ngalap berkah dari batu milik sang bocah. Kobokan (celupan) tangannya, bahkan selokan pembuangan rumah Ponari menjadi incaran para peziarah yang demikian nekat ngalap berkah. Bahkan, beberapa pengunjung tewas karena berjubelnya manusia. Wal ‘iyadzubillah.


Tabaruk dengan Kiai/Orang Saleh

kobokanFenomena pengultusan sesosok tokoh yang dianggap saleh juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sebagian penduduk di negeri ini. Sosok itu demikian agung di mata para pengikutnya.
“Romo kiai rawuh!” Demikian seruan terdengar. Serentak para santri berdiri, dengan badan membungkuk seperti rukuk. Mereka berebut tangan sang kiai untuk menciumnya seraya berharap turunnya berkah.
Selepas kiai bermajelis, pemandangan menyedihkan lain tampak. Sisa minuman kiai atau sisa “kobokan” (cucian tangan) kiai pun diperebutkan. Masih dengan keyakinan dan harapan serupa, yaitu tabarruk (ngalap berkah).
Akal-akal manusia seakan hilang. Memang demikian ketika ketergantungan hati yang seharusnya tertuju hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian bergeser dan diberikan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Syubhat yang Harus Disingkap

Telah menjadi kebiasaan musyrikin dan pengikut hawa nafsu, mereka mendatangkan syubhat untuk membela kebatilan. Dalam masalah tabarruk (ngalap berkah) dengan orang yang dianggap saleh seperti kiai, guru tarekat, ada banyak syubhat mereka bawakan. Di antara syubhat tersebut sebagai berikut.

  1. Berdalil dengan hadits maudhu (palsu)
Di antara hadits-hadits palsu yang mereka nukilkan adalah:
  • Sebuah hadits yang diriwayatkan al-Imam ath-Thabarani dalam al-Ausath dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Beliau radhiallahu ‘anhuma berkata,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ جَدِيدٍ مُخَمِّرٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ مِنَ الْمَطَاهِرِ؟ فَقَالَ: لَا، بَلْ مِنَ الْمَطَاهِرِ، إِنَّ دِينَ اللهِ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ. قَالَ: وَكَانَ رَسُولُ اللهِ يَبْعَثُ إِلَى الْمَطَاهِرِ فَيُؤْتَى بِالْمَاءِ، فَيَشْرَبُهُ، يَرْجُو بَرَكَةَ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih engkau sukai, berwudhu dengan air baru dalam bejana yang tertutup atau berwudhu pada tempat wudhu umum (air wudhu yang telah terkena tangan-tangan manusia)?”
“Sungguh, yang paling aku sukai adalah berwudhu dari bejana yang dipakai umum. Sesungguhnya agama Allah subhanahu wa ta’ala itu lurus dan mudah.”
Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan untuk mengambil air dari tempat wudhu umum. Beliau lalu meminumnya mengharapkan barakah dari tangan-tangan kaum muslimin.”

Dengan berbinar hati, mereka menyatakan hadits ini adalah nas yang menunjukkan bolehnya bertabarruk dengan sisa orang saleh—selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bertabarruk dengan air yang merupakan sisa tangan-tangan kaum muslimin dalam wudhu mereka.

Sungguh, hadits-hadits seperti ini dibuat oleh musuh-musuh Islam yang ingin merusak akidah kaum muslimin.
Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menegakkan Islam. Ahlul hadits—orang-orang yang selalu waspada dari penyusup yang ingin menyelipkan hadits-hadits palsu—menyepakati kebatilan (kepalsuan) hadits ini. Di antara yang mengingkarinya adalah Abu Arubah[1], Ibnu Adi[2], Ibnu Hibban[3], al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahadits al-Ihya (1/690), asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (1/12) dan asy-Syaikh Abdur Rahman al-Mu’alimi al-Yamani.[4]
  • Hadits palsu kedua yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melegalkan tabaruk syirik adalah,

إِذَا أَعْيَتْكُمُ الْأُمُورُ فَعَلَيْكُمْ بِأَهْلِ الْقُبُورِ أَوْ فَاسْتَعِينُوا بِأَهْلِ الْقُبُورِ

“Apabila menimpa kalian perkara-perkara yang menyusahkan, segeralah kalian menuju orang-orang yang telah dikubur.”
Dalam sebagian lafadz, “Mintalah bantuan kepada penghuni kubur.”

Inilah di antara hadits palsu yang digunakan kaum quburi dan Sufi— termasuk di negeri ini—untuk melariskan dagangan mereka mengultuskan kuburan-kuburan “wali”, agar manusia berbondong ngalap berkah di kuburan-kuburan tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari kedustaan mereka.
Para ulama juga bersepakat bahwa hadits ini maudhu (palsu). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menukilkan kesepakatan para ulama tersebut dalam Majmu’ Fatawa (11/293) beliau berkata,
“Hadits ini dusta dan diada-adakan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut kesepakatan orang-orang yang mengetahui haditsnya. Tidak ada seorang ulama pun yang meriwayatkan hadits ini. Tidak didapatkan (hadits ini) sedikit pun dalam kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan.”
Beliau juga mengatakan dalam kitabnya ar-Radd ‘ala al-Bakri bahwa hadits tersebut la ashla lahu (tidak ada asalnya).

  • Di antara hadits palsu yang tersebar untuk melegalkan praktik tabarruk syirik adalah,

لَوْ أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ ظَنَّهُ بِحَجَرٍ نَفَعَهُ

“Seandainya salah seorang di antara kalian berprasangka baik pada batu, niscaya batu itu akan memberikan manfaat kepadanya.”

Hadits ini disebutkan oleh al-Hafizh al-‘Ajluni rahimahullah dalam Kasyful Khafa (2/152). Beliau menukilkan dari Ibnu Taimiyah rahimahullah bahwa hadits ini dusta. Dinukil dari Ibnu Hajar rahimahullah bahwa hadits ini, “La ashla lahu (hadits ini tidak memiliki asal).
Dinukilkan pula dari as-Sakhawi rahimahullah, “La yashih (hadits ini tidak sahih).
Beliau juga menukilkan bahwa Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadits palsu ini asalnya adalah ucapan para penyembah berhala yang selalu berbaik sangka pada bebatuan.”
Dalam kitabnya, Ighatsatu al-Lahafan (1/308), Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “… Semua hadits itu sangat berlawanan dengan agama Islam, dan dipalsukan oleh orang-orang musyrik….
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam Silsilah adh-Dha’ifah hadits no. 450.

  1. Berdalil dengan qiyas
Di antara syubhat yang mereka pegangi dalam masalah tabaruk dengan orang-orang saleh (atau yang dianggap saleh) adalah qiyas.
Mereka mengiyaskan (menganalogikan) orang-orang saleh dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang saleh dan disyariatkan para sahabat bertabaruk dengan jasad beliau dan peninggalan beliau. Karena para wali juga saleh, berarti diperbolehkan pula ngalap berkah dengan mereka.
Meski tampak indah, qiyas ini adalah sebuah syubhat yang batil. Syubhat yang ada di hadapan kita ini terbantah dari beberapa sisi bantahan, di antaranya sebagai berikut.
  • Qiyas ini tertolak karena perbedaan yang sangat jauh antara al-ashl dan al-far’.
Sebagaimana dimaklumi bahwa qiyas menurut ulama ushul fiqh adalah ‘menyamakan antara al-far’ (objek yang dikiaskan) dengan al-ashl (pokok yang dikiaskan kepadanya) dalam hal hukum, karena adanya kesamaan ‘illah antara keduanya (far’ dan ashl)’. ‘Illah adalah alasan untuk menyamakan hukum antara far’ dan ashl.
Dengan qiyas ini, ahlul batil ingin menyamakan dengan paksa antara kiai/orang saleh (sebagai far’) dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagai al-ashl) dalam sebuah hukum, yaitu disyariatkannya bertabaruk dengan jasad kiai/orang saleh sebagaimana bolehnya bertabaruk dengan jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, mereka menganggap adanya kesamaan ‘illah antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kiai/orang saleh.
Mereka menetapkan bahwa sebabnya adalah “kesalehan”. Karena dinilai saleh, keduanya bisa disamakan dalam hal bolehnya bertabaruk dengannya.
Qiyas ini tertolak. Sebab, ketika kita cermati, qiyas seperti ini termasuk qiyas ma’al fariq, yaitu qiyas yang batil karena perbedaan yang sangat jauh antara alashl dan al-far dalam hal ‘illah, sehingga tidak bisa disamakan hukumnya.


Ketika kita dalami, sesungguhnya sangat banyak perbedaan antara kesalehan orang biasa dan kesalehan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
1) kesalehan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada puncak kesalehan, sementara kesalehan kiai/orang saleh yang diagungkan (jika memang dia orang saleh)[5] adalah kesalehan yang sangat terbatas.
2) kalau memang orang saleh, kesalehan kiai/orang saleh tercampur dengan dosa dan kemaksiatan. Berbeda halnya dengan kesalehan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dicampur dengan dosa, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maksum.
3) kesalehan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tercapai karena mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun kesalehan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan karena beliau mengikuti umatnya.
4) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijamin masuk jannah (surga), bahkan jannah yang paling tinggi, sementara kiai/orang saleh yang diagungkan tidak memilki jaminan surga, bahkan tidak ada yang bisa menjamin dia khusnul khatimah. Bisa jadi, dia mati dalam keadaan fasik atau bahkan murtad.
5) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala, baik secara langsung maupun melalui perantara Jibril ‘alaihissalam, sementara kiai/orang saleh yang dianggap saleh tidak mendapatkan wahyu,

قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.” (al-Kahfi: 110)
6) Sangat jauh antara jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta’ala izinkan para sahabat bertabaruk dengannya dan jasad kiai/orang saleh yang diagungkan.
Di antara perbedaannya, Allah subhanahu wa ta’ala haramkan bumi memakan jasad para nabi dan rasul. Hal ini tidak berlaku untuk jasad para kiai/orang saleh, berdasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah haramkan atas bumi memakan jasad para nabi.”
  • Qiyas tersebut menyelisihi dalil, sehingga teranggap fasidul i’tibar.
Yang dimaksud dengan fasidul i’tibar adalah qiyas yang menyelisihi dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah, atau ijma’ ulama.
Para ulama bersepakat bahwa qiyas tidak dipergunakan jika ada nas dari al-Qur’an, as-Sunnah, atau ijma’. Di samping itu, qiyas juga tidak boleh dipegang ketika menyelisihi dalil baik al-Qur’an, as-Sunnah yang sahih, atau ijma’. Sebab, apabila demikian, qiyas tersebut dianggap fasid (fasidul i’tibar).
Dalam masalah tabarruk, telah terjadi ijma’ (kesepakatan) di kalangan para sahabat bahwa mereka tidak bertabarruk dengan selain jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ijma’ ini dinukilkan oleh asy-Syathibi rahimahullah dalam kitabnya al-I’tisham.
Karena adanya ijma’ ini, menyamakan jasad orang saleh dengan jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal disyariatkannya tabarruk termasuk qiyas yang menyelisihi ijma’.
Lebih dari itu, qiyas ini menyelisihi nas al-Qur’an atau as-Sunnah.
Kita telah membaca bersama hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu tentang perjalanan beliau bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Hadits tersebut menunjukkan bahwa bertabarruk dengan pohon adalah kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat tegas mengingkari keinginan sebagian sahabat yang baru saja masuk Islam saat menyampaikan keinginan agar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat Dzatu Anwath, seperti yang dilakukan musyrikin terhadap sebuah pohon sidr.

Larangan tabarruk dengan pohon berlaku juga untuk hal yang lain, seperti mencari berkah kepada bebatuan, kuburan, atau yang lainnya. Demikian pula mencari berkah dengan keringat orang saleh, bersentuhan dengan tubuh mereka, menyentuh pakaian mereka, dan yang semisalnya. (al-Jadid, hlm. 103)
Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa mengusapkan pakaian atau bagian tubuh—sebagaimana kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang—di sisi kubur para wali dengan maksud mencari berkah adalah perbuatan syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Demikian pula perbuatan sebagian manusia mencium para gurunya dengan keyakinan bahwa barakah akan mereka peroleh dengan cara tersebut. Merunduk, membungkuk, berebut air kobokan, dan berebut gedoh kopi pak kiai, semuanya termasuk bentuk kesyirikan.
  • Qiyas tersebut tidak sesuai dengan amalan salaf umat ini, baik para sahabat, tabi’in, atau tabi’ut tabi’in.
Ketika terjadi perselisihan, kita diperintahkan untuk mengembalikan perselisihan tersebut kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Khulafaur Rasyidin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا باِلنَّوَاجِذِ

“Sungguh, siapa yang hidup di antara kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah al-Khulafa yang mendapat bimbingan dan petunjuk. Peganglah erat sunnah itu dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan at-Tirmidzi no. 2676)

Setelah kita lihat amalan salaf, ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat yang bertabarruk dengan selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mengapa para sahabat tidak bertabarruk dengan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu, padahal beliau adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul?
Jawabnya, karena mereka mengerti bahwa tidak ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang bisa menjadi sandaran untuk bertabarruk dengan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga menyadari bahwa manusia, sesaleh apa pun tidak bisa disamakan dengan Nabi dalam hal kesalehan hingga memiliki kesamaan hukum.
Tidak ada satu riwayat sahih pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintah sahabat agar bertabarruk (mencari berkah) kepada selain beliau, baik kepada kalangan sahabat seperti Abu Bakr atau selainnya, dengan diri mereka, maupun dengan peninggalan mereka. Di samping tidak ada perintah dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada pula satu riwayat sahih yang menyebutkan bahwa para sahabat bertabarruk dengan sahabat yang lain layaknya dahulu mereka bertabarruk dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat tidak pernah melakukan hal itu terhadap orang-orang terbaik dari al-Khulafaur ar-Rasyidin atau al-‘Asyarah al-Mubasysyaruna bil Jannah.
Jika kesalehan menjadi alasan seseorang bertabarruk dengan kiainya, tentu saja orang yang paling saleh adalah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Beliau telah dijamin masuk surga. Beliau adalah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat saat sakitnya, sekaligus sebagai Khalifah sepeninggal beliau. Akan tetapi, para sahabat bersepakat tidak bertabarruk dengan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Bahkan, para sahabat telah bersepakat tidak bertabarruk dengan jasad selain jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setelah wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan di kalangan umatnya orang yang lebih utama daripada Abu Bakr ash-Shiddiq. Ia adalah khalifah (pengganti) beliau. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan tabarruk terhadapnya. Tidak juga terhadap Umar, orang yang paling utama di kalangan umat beliau setelah Abu Bakr. Demikian pula terhadap Utsman dan Ali, kemudian para sahabat lainnya. Padahal tidak ada seorang pun di kalangan umat ini yang lebih utama daripada mereka.
Tidak ada satu keterangan pun yang sahih dan dikenal dari salah seorang mereka yang menyatakan bahwa ada seseorang yang mencari berkah terhadapnya dengan salah satu cara di atas atau semacamnya.
Akan tetapi, yang terjadi di kalangan mereka hanyalah bertabarruk mengikuti perbuatan, ucapan, dan perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) mereka untuk tidak melakukan hal-hal tersebut.” (al-I’tisham, asy-Syathibi, 2/8—9)

  • Tabaruk dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekhususan beliau.
Para ulama menjelaskan alasan para sahabat tidak bertabaruk dengan selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyebab utamanya— wallahu a’lam—adalah keyakinan mereka bahwa tabarruk seperti itu adalah kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dimiliki oleh selain beliau.
pena-bulu-dan-pena-jadulAllah subhanahu wa ta’ala benar-benar telah memberi beberapa kekhususan kepada para nabi dan rasul yang mulia. Berbagai kekhususan tersebut tidak didapatkan pada selain mereka.
Demikian pula pada diri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara kekhususan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan adalah adanya keberkahan pada diri (jasad) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pemuliaan terhadap beliau.

Jasad dan sifat manusia biasa tidak sama dengan jasad dan sifat para nabi. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memilih dan mengistimewakan mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am: 124)
Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya….” (al-Qashsash: 68)

Pengistimewaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para Nabi, dengan berbagai kekhususan yang tidak dimiliki oleh selain mereka, telah masyhur dan tidak dapat dimungkiri. Sungguh, tidak bisa disamakan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seorang saleh pun dari umat beliau.
Para ulama telah menjelaskan bahwa tabaruk dengan sisa air wudhu, rambut, keringat, atau sejenisnya adalah kekhususan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, hal ini tidak boleh dilakukan kepada seorang pun dari umat beliau. Hal ini sebagaimana kekhususan beliau diperbolehkan menikahi lebih dari empat wanita.
Ketika mengulas larangan ghuluw (melampaui batas) dalam mengagungkan para wali, al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan pula larangan menyamakan wali dengan Nabi dalam hal tabarruk.
Beliau berkata, “… Hal itu (yakni tabarruk) telah dilakukan oleh para sahabat terhadap Nabi dan mereka tidak melakukannya terhadap sebagian dari mereka…
Tabarruk juga tidak dilakukan oleh para tabi’in terhadap para sahabat, padahal kedudukan mereka tinggi. Ini semua menunjukkan bahwa tabarruk semacam ini hanya boleh dilakukan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti mencari barakah dengan air wudhu beliau, sisa-sisa air wudhu beliau, rambut beliau, dan meminum/memakan sisa minuman/makanan beliau.” (al-Hikamul Jadirah bil Idzaa’ah min Qaul Rasulillah, “Buitstu baina yadayi as-Sa’ah”, Ibnu Rajab, 55)

  1. Berdalil dengan Ucapan Ulama yang Masih Samar
Di antara syubhat mereka ialah menukil ucapan ulama yang masih samar kesahihannya atau maknanya, tanpa memerhatikan keterangan para ulama ketika mendudukkan riwayat tersebut.
Sebagai contoh, mereka dapatkan sebuah riwayat dari al-Imam Ahmad bin Hanbal,

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمُسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ: لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

“Aku bertanya kepadanya (al-Imam Ahmad) tentang seorang yang mengusap mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertabarruk (mencari berkah) dengan mengusap dan menciumnya. Demikian pula seseorang yang melakukan hal tersebut terhadap makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-Imam Ahmad menjawab, ‘Hal itu tidak apa-apa’.”
Tentu saja, bagi mereka riwayat ini sangat menggembirakan. Tanpa ragu mereka mengatakan, “Ini dalil kami yang tidak terbantahkan!” Imam Ahlus Sunnah menyatakan bolehnya bertabarruk dengan mencium dan mengusap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara itu.
Jawaban atas syubhat ini adalah sebagai berikut.
  • Riwayat di atas adalah riwayat yang sangat aneh.
Dalam mazhab Hanbali, sangat tegas dibencinya mengusap-usap dan menciumi kuburan, karena amalan ini tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dilakukan oleh para sahabat.
  • Riwayat tersebut sangat diragukan kebenaran penisbatannya kepada al-Imam Ahmad rahimahullah
Sebab, riwayat di atas bertentangan dengan riwayat-riwayat yang masyhur dari beliau yang secara tegas menunjukkan bahwa mengusap kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—apalagi selain kubur beliau—tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan salaf umat ini.
Di antara riwayat tersebut adalah riwayat al-Atsram, salah seorang murid al-Imam Ahmad yang tepercaya dan mengambil riwayat langsung dari beliau. Beliau berkata,

رَأَيْتُ أَهْل الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لاَ يَمُسُّونَ قَبْرَ النَّبِيِّ، يَقُومُونَ مِنْ نَاحِيَةٍ فَيُسَلِّمُونَ

“Aku menyaksikan bahwa ahlul ilmi dari penduduk Madinah tidak mengusap kubur Nabi. Mereka hanya berdiri di dekat (makam) dan mengucapkan salam (atas beliau).”
Hal lain yang menambah keraguan tentang riwayat di atas, al-Imam Ahmad bin Hanbal sangat terkenal dalam hal berpegang dengan sunnah, menjauhi kesyirikan, dan menjauhi jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan.
Siapa saja yang mengenal Ahmad bin Hanbal rahimahullah, niscaya akan merasa aneh dengan riwayat yang dijadikan syubhat quburiyun (para pengagung kuburan). Terlebih lagi, dipastikan bahwa riwayat-riwayat yang sahih justru bertentangan dengan riwayat yang mereka nukilkan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (3/475) menyebutkan dari murid-murid al-Imam Ahmad bahwa mereka menganggap jauh (mustahil) perkataan tersebut (diucapkan oleh al-Imam Ahmad).
Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah meragukan pula kebenaran riwayat di atas dari al-Imam Ahmad.
  •  Seandainya penukilan dari al-Imam Ahmad itu sahih, kita memiliki pokok-pokok akidah berdasarkan al-Kitab dan Sunnah Rasulullah yang lebih didahulukan dari ucapan siapapun.
sunnah-bidahAl-Imam Ahmad sendiri berkata, “Jika kalian melihat ucapanku yang menyelisihi ucapan Rasulullah, buanglah ucapanku.”
Pembaca, sebuah contoh ini insya Allah cukup sebagai peringatan bahwa ahlul bid’ah demikian jahat dalam mencari-cari celah untuk membenarkan kesesatannya. Setiap ucapan yang sekiranya bisa memperkuat kebid’ahan dan kesyirikan mereka segera dicomot tanpa memerhatikan apa yang mereka nukilkan.
Demikian beberapa pembahasan terkait dengan barakah dan tabarruk. Semoga apa yang sedikit ini memberikan faedah bagi kaum muslimin.
Wallahu a’lam.

Sumber :